Jumat, 01 Juli 2016

CERPEN KARYAKU



Relakan
Namaku Rena, kekasihku bernama Ray. Kita sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun. Hari yang kita jalani bersama sangatlah rumit, tak jarang kita berselisih paham baik hal besar sampai hal sepelepun kita permasalahkan. Mungkin karena kita masih labil. Tapi karena kekuatan hati kita masing-masing, hubungan kita masih bisa dipertahankan sampai saat ini.
Saatku duduk di halaman belakang, ku lihat dewi malam keluar dari balik awan. Saat itulah, ku dengar suara ketukan pintu dari luar rumah. Lalu, ku buka pintu. Kulihat Ray berdiri dengan posisi membalikkan badan.
“Ray..?” panggilku mendekati Ray. Mendengar panggilanku Ray bergegas membalikkan badannya dan tersenyum kepadaku. Seketika itu, aku pun heran tak biasanya dia datang ke rumah pada saat kita sedang berselisih.
“Ngapain malem-malem datang kesini? Ada apa?” tanyaku kepada Ray yang masih diam berdiri disampingku. Ray hanya terdiam, tak menjawab pertanyaanku. Seketika itu kita hanya diam-diaman saja. Hanya terdengar suara cicak yang merayap di dinding seakan menyaksikan kita. Lama-kelamaan kakiku merasa pegal karena berdiri, sehingga aku memilih duduk di kursi yang ada di teras. Ray masih diam berdiri memandangi bintang di atas langit.
“Ray, lebih baik kamu pulang, tidur, hari sudah semakin gelap. Daripada kamu datang kesini hanya diam tidak penting.” kataku lagi untuk mengisi kediaman ini.
“Iya, aku memang tidak penting. Yaudah aku pulang dulu ya ren, selamat malam.” jawab Ray singkat dan ia bergegas melangkahkan kakinya menghampiri motornya yang terparkir di halaman rumahku. Ray pun segera pergi meninggalkanku dan rumahku. Belum sempat ku mau menjawab ucapannya tadi, ia sudah bergegas pergi.
Saat fajar sudah hampir terbit, ku sempatkan duduk di tepi kolam sebelum pergi ke kampus. Tepat jam 10, aku berangkat ke kampus. Hari ini aku diantar oleh sopirku, karena ngga mungkin saat aku dan Ray sedang dalam keadaan seperti itu, dia mau nyamperin aku seperti biasanya. Beberapa menit setelah mobil pergi, mendaratlah motor Ray di halaman rumahku. Ray pun pergi setelah di kasih tau oleh Bibi, kalau aku barusan berangkat dengan sopirku.
Selesai ngampus, aku pergi ke kantin bersama kawanku Gita. Saat kita sedang asyik menikmati hidangan di kantin, Ray menghampiriku sebentar.
“Ketemuan di taman belakang, aku tunggu.” bisik Ray disamping telinga kananku. Setelah ia selesai membisikannya, ia langsung pergi dari kantin.
“Ren, bilang apa si Ray sampai ia harus berbisik ditelinga lo?” tanya Gita penasaran padaku.
“Dia minta ketemuan di taman belakang Git,.” jawabku jujur.
“Ooh.. Lo pasti lagi berantem ya sama Ray?” tanya Gita. “Yaudah buruan Ren ke taman, lo pasti udah ditunggu sama Ray, jangan kelamaan!” belum sempat ku jawab pertanyaan itu, Gita sudah nyambung lagi. Gita memang sahabat yang paling pengertian dan baik sama aku.
“Yaudah Git, aku  ke taman dulu ya. See you! Bye..” ucapku dengan melangkahkan kaki meninggalkan kantin. Aku berjalan menuju taman, terlihat Ray sedang duduk di bangku taman sambil membaca bukunya.
“Maaf ya lama..” ucapku lirih dari samping bangku yang diduduki Ray.
“Gapapa, duduk Ren..” jawab Ray sambil menutup buku bacaannya. Lalu, akupun duduk disamping Ray sesuai dengan apa yang ia minta.
“Ada apa Ray, kok ngajak ketemuan ditaman?” tanyaku penasaran.
“Kenapa tadi pagi berangkat duluan?” tanya Ray padaku dengan tatapan khasnya.
“Kamu ke rumah? Maaf Ray.. Aku kira kamu ngga nyamperin aku, jadi aku berangkat sama sopir. Soalnya, kalau kita lagi berantem kan ngga pernah kamu nyamperin aku.” jelasku meyakinkan Ray.
“Oh gitu ya? Kamu selalu berfikir aku akan seperti itu. Kamu kenapa sih Ren, makin kesini kamu semakin aneh tau.Aku udah berusaha jadi yang terbaik buat kamu,  tapi kamunya kaya gini.” kata Ray kepadaku, dengan sedikit menekan ucapannya.
“Mana buktinya? Kamu yang semakin hari semakin berubah, bukan aku! Kamu sekarang jadi tambah sensitif, suka ngilang juga. Itu yang namanya usaha Ray?” kataku dengan sedikit emosi, karena aku merasa tidak bisa berfikir lagi, terbawa suasana yang semakin panas juga.
“Kenapa sih Ren? Kamu selalu membela diri kamu, seakan aku yang selalu salah. Apa kita ngga bisa disatukan lagi? Sekarang kita bagaikan air dan minyak yang tidak bisa bersatu lagi.” Ucap Ray, dengan wajah yang gantengnya itu seakan menjadi terlipat-lipat.
“Udah ya Ray, aku lagi ngga mau berantem. Kita sama-sama salah kan, yaudah kita introspeksi diri masing-masing dulu. Sekarang, lebih baik kita pulang yuk!” ucapku menenangkan hati Ray, dan meredakan suasana yang sedang terjadi.

Setelah itu aku pulang diantar Ray. Aku merasa sedikit lega, karena aku bisa mendinginkan suasana panas tadi. Semoga dan aku berharap ke depannya akan lebih baik. Malam harinya, aku disamperin sama Gilang. Dia mengajakku ke tempat Gita, untuk membantu melancarkan project ulang tahun Ratna yang dibikin oleh Gilang. Sebelum sampai di rumah Ratna, aku melihat Ray datang ke rumah Ratna. Kebetulan rumah Dinda berdekatan dengan rumahnya Ratna. Lalu, aku menyuruh Gilang memberhentikan motornya, aku turun dari motor. Aku samperin Ray yang sedang asyik ngobrol dengan Ratna. Ray pun terkejut dengan kedatanganku dan Gilang.
“Rena, Gilang, kalian berdua ngapain kesini?” tanya Ray kepadaku, dan Gilang.
“Harusnya, aku yang tanya. Ngapain kamu malem-malem datang ke rumah Ratna? Ngapain?” tanyaku sinis penuh curiga, dan dapat membuat Ray gugup.
“Aku cuma mau ngajarin Ratna main gitar, kamu jangan salah paham.” kata Ray meyakinkanku.
“Malem-malem? Harus gitu? Kenapa ngga pas di kampus aja?” tanyaku lagi.
“Kak Rena, jangan salah paham kak. Aku sama kak Ray hanya sekedar belajar doang gak lebih.” ucap Ratna, ikut menyambung pembicaraan itu.
“Oh ya bagus deh, kalo emang kaya gitu. Yuk lang, pergi.” jawabku, dengan mengajak gilang pergi.
“Kak Rena sendiri ngapain malem-malem gini sama kak Gilang?” tanya Ratna dengan berani.
“Aku sama Rena, cuma mau ngrayain ulang tahunnya Gita. Gak lebih. Aku yang ngajak dia kok.” jawab Gilang membantu dengan jujur.
“Harus ya satu motor?” tanya Ray nyambung.
“Terserah deh, kamu mau ngomong apa. Aku udah cape. Aku ke rumah Gita dulu ya Ray.” jawabku singkat, dengan meninggalkan Ratna dan Ray di rumah Ratna.

Tak lama setelah aku pergi, Ray pun ikut pergi. Aku masih bersama Gilang, memberi kejutan buat ulang tahun Gita. Selesai itu, aku tidak pulang. Aku memilih menginap di rumah Gita, sedangkan Gilang pulang. “Kamu yang sabar aja ya Ren, udah ngga heran kalo Ratna kaya gitu ke kamu. Dia emang sering kali menjadi perusak hubungan orang lain. Dulu aku juga pernah.” kata Gita tiba-tiba.
Aku tidak terlalu menghiraukannya, karena mataku sudah tak mampu membuka lagi.
Keesokan harinya, aku tidak pergi ke kampus karena kondisi badanku yang terasa kurang fit. Jadi ya aku cuti buat ketemu sama Ray. Sepulang Gita ngampus, aku di ajak Gita sama Gilang makan siang, ya daripada aku bete sendirian di rumahnya Gita jadi aku ikut aja deh.. Kita bertiga makan di restorant seperti biasanya kita berempat bersama Ray. Setelah selesai makan di restourant yang makanannya ala kadarnya, selanjutnya kita pergi ke danau. Aku merasa sepi di tengah keramaian orang yang menikmati indahnya danau. Gita bersama Gilang, akupun hanya seorang diri disini, duduk di bawah pohon beringin yang semakin bikin aku merasa terasingkan. Ku lihat sepasang kekasih yang bahagia tampak sedang naik di atas perahu. Saat ku merasa lebih badmood, aku pergi meninggalkan danau. Ku berjalan, ku tendangi batu yang ada di jalan, ku rasakan hembusan angin dari pohon-pohon di tepi jalan seakan pohon itu melambaikan tangan kepadaku. Tak terasa sampailah aku di depan rumah, ku buka pintu rumah.
“Ren, dari mana aja kamu? Ngga pulang semaleman. Katanya hari ini kamu ga ke kampus ya?” tanya Mama padaku, seketika mengagetkanku karena ku kira Mama masih di Bandung.
“Lho, Mama udah pulang???” tanyaku balik pada Mama dengan tanda tanya.
“Jawab dulu pertanyaan Mama dong!” jawab Mama dengan tegas.
“Aku tidur di rumah Gita Ma, semalam. Pleasee Ma, jangan laporin Papa kalo aku ga ke kampus. Mama yang cantik dan baik hatiiii. Ya Maaa” jawabku dengan memohon sama Mama.
“Baiklah, kalo gitu. Tapi janji jangan di ulangin yaa. Ini cuma sekali untuk yang terakhir kalinya.” Jawab Mama dengan lemah lembut tapi tegas.
“Yaaaa Maaa. Tapi, ngomong-ngomong Mama tau dari mana?” tanyaku iseng.
“Dari Ratna, kebetulan tadi Mama ketemu sama dia di jalan.” jawab Mama.
“Ratnaaa...........???” jawabku dengan wajah bingung.

Malam harinya aku tidur tidak seperti biasanya, tetapi, kali ini aku tidur di jam yang lebih awal. Karena aku rasa tak ada yang perlu dikerjakan lagi. Saat raja siang mulai memancarkan sinarnya, ku pandang dari kaca jendela, banyak burung terbang sambil bernyanyi riang seakan menyemangatiku. Hari ini adalah hari Minggu, jadi tak ada jadwal buat ngampus. Ku buka handphoneku.Ku lihat ada sebuah pesan yang masuk dari Ray. Lalu, ku buka dan ku baca pesan itu. Ray hari ini ternyata mengajakku untuk jogging. Tetapi, apa dayaa aku baru bangun beberapa menit yang lalu.
“Bi....bibiiiiiiii...!!!” aku memanggil bibi dengan keras dari depan pintu kamarku.
“Iyaaa mbak, sebentar” jawab bibi teriak terdengar dari lantai bawah. Lalu, bibi segera berjalan menghampiriku yang terlihat sedang menunggu.
“Bi, tadi Ray ke rumah ngga?” tanyaku pada bibi.
“Iya mbak, tadi nak Ray datang kemari, sepertinya dia mau ngajakkin mbak Rena buat lari pagi. Dia nyariin mbak Rena. Tapi pas bibi mau bangunin mbak Rena, katanya ngga usah takut ganggu  gitu. Terus yaudah dia pamitan, dia jadinya lari berdua sama temennya. Temennya cewe loh mbak, sepertinya dia temen mbak juga, kalo ngga salah namanya Ratna.” ucap bibi kepadaku dengan jelas.
“Ratna bi...???” tanyaku dengan lirih.
Lalu, aku pergi ke taman sekitar kompleks. Aku ingin menenangkan diriku, agar aku tidak terbawa suasana dengan hal yang negatif. Aku mencoba buat introspeksi diri aku. Tak terasa matahari sudah hampir tenggelam, akupun segera pulang.

Ku termenung dalam kamar. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ku sangat merindukan Ray. Ku menatap langit-langit, aku berharap hubunganku dengan Ray bisa baik lagi. Tapi, rasanya aku sudah tak kuat lagi menahan semua ini. Kesabaranku untuknya, serasa diabaikan dan di sia-siakan. Tak terhitung banyaknya butiran air mata yang menetes dari mataku.
Esok harinya, aku memaksakan diri buat pergi ke kampus. Karena aku ingat gari ini ada ujian. Walaupun ujian itu udah aku lewati, aku hanya berharap nilainya bisa mencapai target lulus. Setelah itu, aku berjalan di sekitar lingkungan kampus sebelum aku pulang. Tapi ada sedikit penyesalan karena aku harus bertemu dengan Raym seketika tanganku ditarik olehnya. Karena aku tau pasti akan ada perdebatan lagi diantara aku dan dia kalo seperti ini.
“Ren, kamu kenapa?” tanya Ray padaku dengan melepaskan tanganku.
“Gapapa kok Ray, aku udah ditunggu Mama di rumah aku harus pulang.” jawabku dengan bohong, karena aku ngga mau ada pertengkaran lagi.
“Jawab dulu dong Ren, kamu jangan kaya gitu sama aku!” ucap Ray dengan tegas.
“Udahlah Ray, aku cape harus berantem mulu sama kamu.” jelasku lirih dengan mataku yang hampir lembab. Lalu ku angkat mataku agar air mata tidak terjatuh di depan Ray.
“Kamu nangis? Kamu marah sama aku?” tanya Ray lagi.
“Ray, aku bingung sama sikap kamu yang semakin berubah. Aku cape berantem terus sama kamu. Kamu boleh bosen sama aku, tapi ngga gini caranya.” jelasku pada Ray.
“Apa maksud kamu sih? Soal kemarin yang aku sama Ratna?” tanya Ray lagi.
“Entahlah, mungkin kamu emang udah berubah. Dari kesalahan janji pertama, kedua, ketiga dan ke berapa kalinya pun yang pernah kamu buat, kamu ingkarin.” ucapku dengan wajah menunduk.
“Ratna teman kita Ren, ga mungkin aku ada rasa lebih sama dia.” jelas Ray meyakinkanku.
“Iya dia teman sekaligus adik kelas yang mengistimewakan kamu dan kamu sadar ngga dia yang udah bikin kita kaya gini?” ucapku dengan sedikit menentang dari penjelasan Ray.
“Kamu jangan salahin dia dong Ren, dia ngga salah apa-apa!!” tegas Ray.
“Tuh kan kamu selalu belain dia, aku selalu salah di mata kamu. Kurang sabar apa aku? Mungkin aku yang terlalu cemburu sama kamu, jadi kaya gini. Sorry Ray.” jawabku singkat, mengalah demi permasalahan ini selesai. Kata-kata yang ingin kuucapkan pun serasa tak bisa ku keluarkan semuanya.
“Lantas, hubungan kita?” tanya Ray.
“Ray, aku izinin kamu pergi, kalo emang kamu udah menemukan sosok lain yang lebih. Aku relain kamu asal kamu bahagia.” jelasku pada Ray dengan air mata yang semakin menjadi-jadi.
“Maksudmu? Kita putus?” tanya Ray padaku lagi.
“Iya, daripada kita kaya gini terus. Dan kamu juga ngga berharap aku lagi. Aku yakin, kamu akan akan lebih bahagia, walaupun ngga sama aku.” ucapku pada Ray.
“Yaudah kalo kamu maunya kaya gitu Ren, maafin aku ya. Kamu pasti  kecewa sama aku.” jawab Ray dengan lembut. Selama itu pun kita enggan bertatapan.
“Gapapa Ray, aku juga minta maaf Ray kalo aku ngga bisa jadi yang terbaik buat kamu.” jawabku pada Ray. Ku usap air mata ku yang bertetesan di atas pipi.
“Semoga kamu bahagia Ren, aku pergi ya Ren.. Aku sayang kamu.” ucap Ray yang sudah melangkahkan kakinya dari ku dengan senyum manisnya ia meninggalkanku.

Hari-hari yang ku lewati tanpa Ray, sangat berbeda. Biasanya ada teman berantem, kini tak ada lagi. Aku dan dia pun seperti orang yang asing. Tak ada kontak apapun. Rindu yang ku pendam pun tak tersampaikan, aku hanya berharap salamku tersampaikan lewat hembusan angin malam. Aku hanya ingin dia yang dulu, dia yang sangat manis dan tak ada sepatah selisih pun diantara kita. Hubungan yang baik. Sampai saat ini, hatiku masih terasa sakit bagaikan pecahan kaca yang berkeping-keping. Dan aku belum bisa sepenuhnya melupakannya, tapi, aku pasti bahagia bila Ray bahagiaaa walaupun kesabaran dan ketulusanku akhirnya di sia-siakan. Tapi aku rela.... J

















keterangan cerpen        :
1.      penokohan :
·         Rena    : penyabar, pengalah.
          dialog tokoh yang bersangkutan dengan tokoh lain.
“Tuh kan kamu selalu belain dia, aku selalu salah di mata kamu. Kurang sabar apa aku? Mungkin aku yang terlalu cemburu sama kamu, jadi kaya gini. Sorry Ray.” jawabku singkat, mengalah demi permasalahan ini selesai. Kata-kata yang ingin kuucapkan pun serasa tak bisa ku keluarkan semuanya.
·         Ray      : penyayang
          dialog tokoh yang bersangkutan dengan tokoh lain. 
“Semoga kamu bahagia Ren, aku pergi ya Ren.. Aku sayang kamu.” ucap Ray yang sudah melangkahkan kakinya dari ku dengan senyum manisnya ia meninggalkanku.
·         Ratna   : tidak baik.
          dialog tokoh lain terhadap tokoh yang bersangkutan.
“Kamu yang sabar aja ya Ren, udah ngga heran kalo Ratna kaya gitu ke kamu. Dia emang sering kali menjadi perusak hubungan orang lain. Dulu aku juga pernah.” kata Gita tiba-tiba.
·         Gita     : baik, pengertian.
          dialog tokoh yang bersangkutan dengan tokoh lain. 
“Ooh.. Lo pasti lagi berantem ya sama Ray?” tanya Gita. “Yaudah buruan Ren ke taman, lo pasti udah ditunggu sama Ray, jangan kelamaan!” belum sempat ku jawab pertanyaan itu, Gita sudah nyambung lagi. Gita memang sahabat yang paling pengertian dan baik sama aku.
·         Gilang : jujur.
            dialog tokoh yang bersangkutan dengan tokoh lain. 
“Aku sama Rena, cuma mau ngrayain ulang tahunnya Gita. Gak lebih. Aku yang ngajak dia kok.” jawab Gilang membantu dengan jujur.
2.      tahapan alur :
a.       pengenalan
b.      penanjakan
c.       puncak
d.      penurunan
e.       penyelesaian
3.      konflik sosial
4.      majas   :
a.       Personifikasi    : Ku berjalan, ku tendangi batu yang ada di jalan, ku rasakan hembusan angin dari pohon-pohon di tepi jalan seakan pohon itu melambaikan tangan kepadaku.
b.      Metafora         : Saatku duduk di halaman belakang, ku lihat dewi malam keluar dari balik awan.
c.       Sampai saat ini, hatiku masih terasa sakit bagaikan pecahan kaca yang berkeping-keping.
d.      Klimaks           : “Entahlah, mungkin kamu emang udah berubah. Dari kesalahan janji pertama, kedua, ketiga dan ke berapa kalinya pun yang pernah kamu buat, kamu ingkarin.” ucapku dengan wajah menunduk.
e.       Pleonasme       : Ku lihat sepasang kekasih yang bahagia tampak sedang naik di atas perahu.
f.       Kontradiksi     : Seketika itu kita hanya diam-diaman saja. Hanya terdengar suara cicak yang merayap di dinding seakan menyaksikan kita.
5.      struktur cerpen :
a.       Orientasi          : Namaku Rena, kekasihku bernama Ray. Kita sudah menjalin hubungan hampir 2 tahun. Hari yang kita jalani bersama sangatlah rumit, tak jarang kita berselisih paham baik hal besar sampai hal sepelepun kita permasalahkan. Mungkin karena kita masih labil. Tapi karena kekuatan hati kita masing-masing, hubungan kita masih bisa dipertahankan sampai saat ini.
b.      Komplikasi      : “Ray, lebih baik kamu pulang, tidur, hari sudah semakin gelap. Daripada kamu datang kesini hanya diam tidak penting.” kataku lagi untuk mengisi kediaman ini.
“Iya, aku memang tidak penting. Yaudah aku pulang dulu ya ren, selamat malam.” jawab Ray singkat dan ia bergegas melangkahkan kakinya menghampiri motornya yang terparkir di halaman rumahku. Ray pun segera pergi meninggalkanku dan rumahku. Belum sempat ku mau menjawab ucapannya tadi, ia sudah bergegas pergi.
c.       Evaluasi           : Ku termenung dalam kamar. Dalam lubuk hati yang paling dalam, ku sangat merindukan Ray. Ku menatap langit-langit, aku berharap hubunganku dengan Ray bisa baik lagi. Tapi, rasanya aku sudah tak kuat lagi menahan semua ini. Kesabaranku untuknya, serasa diabaikan dan di sia-siakan. Tak terhitung banyaknya butiran air mata yang menetes dari mataku.
d.      Resolusi           : “Ray, aku izinin kamu pergi, kalo emang kamu udah menemukan sosok lain yang lebih. Aku relain kamu asal kamu bahagia.” jelasku pada Ray dengan air mata yang semakin menjadi-jadi.
“Maksudmu? Kita putus?” tanya Ray padaku lagi.
“Iya, daripada kita kaya gini terus. Dan kamu juga ngga berharap aku lagi. Aku yakin, kamu akan akan lebih bahagia, walaupun ngga sama aku.” ucapku pada Ray.
“Yaudah kalo kamu maunya kaya gitu Ren, maafin aku ya. Kamu pasti  kecewa sama aku.” jawab Ray dengan lembut. Selama itu pun kita enggan bertatapan.
“Gapapa Ray, aku juga minta maaf Ray kalo aku ngga bisa jadi yang terbaik buat kamu.” jawabku pada Ray. Ku usap air mata ku yang bertetesan di atas pipi.
“Semoga kamu bahagia Ren, aku pergi ya Ren.. Aku sayang kamu.” ucap Ray yang sudah melangkahkan kakinya dari ku dengan senyum manisnya ia meninggalkanku.


TULISANKU : AKU MEMAKNAI ITU KOK ~



Aku memaknai itu kok :’)
Dari awal kamu pergi, aku sudah merasakan itu. Apa yang akan terjadi, bagaimana kedepan. Ya walaupun semu. Sebenarnya, aku benar-benar tak ingin melakukan itu. Tapi kamu mendukung dan pertanyaan yang kamu lontarkan bukan semata tipu daya. Sepanjang perjalanan itu, kamu benar-benar membuatku remuk dari segi manapun. Aku yang awalnya hanya ingin agar kamu mempertahankan dan menyuruh ku untuk memperjuangkanmu tapi tidak. Hanya saja kamu menanggapi dengan gampangnya. Sungguh, aku ingin segera memperhentikan ini. Tapi itu bener-benar terjadi. Aku sadar, kamu tak lagi mau diperjuangkan olehku dan ingin kita menjadi kamu dan aku. Aku bisa apa, kamu sudaah seperti itu. Aku harus bagaimana ? Aku tak mungkin dengan gampangnya meneteskan air mata didepanmu. Dan saat itupun aku haru pura-pura tegar. Ah ya sudah, kamu mau itu dan aku tak bisa memaksa apa-apa. Kamu sudah berbeda, aku bisa apa. Kamu memang ingin pergi dan bosan denganku mau gimana lagi. Aku tak mungkin mencegah jika kamu akan pergi. Aku pasti yakin ini awal dari kekuatanku melihat kamu pergi. Walaupun aku tau kamu juga sakit. Dan itu udah bener-bener nihil. Aku hanya ingin cepat hari esok dan tidur dan lupa akan semuanya, dan mengubur dalam-dalam rasa yang masih tertinggal ini. Dan aku sebisa mungkin menutupi kelemahanku dan tak akan lagi mencarinya.
Awalnya aku sedikit berhasil, tapi gagal. Kadang berhasil lagi. Aku tau keberhasilan itu pasti ada halangan dan rintangannya. Pasti aku akan berhasil suatu saat. Karna disaat kamu mengabaikanku, aku selalu memperjuangkanmu. Memang baru kali ini aku merasakan ini. Jika aku bodoh, dan salah Allah pasti akan membimbingku kok. Aku tau kamu kenapa seperti ini, kamu menganggapku salah. Dan sesakit apapun aku merasakan itu, aku pasti selalu mencoba memulihkannya. Kamu memang bukan orang asing dalam hidupku, tapi kamu mengukir sendiri menjadi yang paling diasingkan. Hey, kamu tau aku bukan seseorang yang gampang memaafkan memang dan aku juga akan mengingat kesalahan itu. Tapi aku ingat dibalik kesalahan itu, kamu juga pernah membagi kebaikan kepadaku kan? Buat apa berlarut pada kebencian. Hidup itu layaknya air mengalir terus. Sudah tak ada gunanya aku mengungkit itu, belajarlah dewasa. Tapi sayangnya kamu tak menghargai itu. Kamu tetap berjalan di egomu. Kamu tak bisa memaknai ini semua. Senyum yang kau torehkan kepadaku sangatlah bermakna dan membuatku merasa lebih baik. Memaafkan terlebih dahulu jauh lebih baik, dan kesalahan adalah pelajaran. Terimakasih karenamu, aku tau dan belajar tentang banyak hal. Semoga kamu bisa menjadi yang lebih baik yaa, kamu tambah dewasa, dan aku Cuma pengin kamu akan selalu belajar dari kesalahan.