Kamis, 11 September 2014

Cerpenku I



Kekuatan Doa

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas... Ibu... Ibu
Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu
Lalu doa-doa baluri seluruh tubuhku
Dengan apa membalas... Ibu... Ibu

Lagu berjudul “Ibu” karya sang legendaris musik Indonesia Iwan Fals memang sangat menyentuh bagi siapa saja yang mendengarnya. Tak luput pula bagi Muhammad Gadi Widjoyo seorang sarjana hukum yang sangat menyayangi seorang Ibunya. Yang ada dalam pikirannya adalah sebuah pertanyaan, apakah kamu pernah dan merasakan kasih sayang Ibumu?
“Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu. Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu” lirik ini baginya sangat mengingatkan sebuah klise kehidupan sesosok Ibu dan menyiratkan sebuah keinginan seorang anak kepada malaikat kecil itu. Tak terasa mendengar dan merasakan lirik demi lirik lagu itu, berbutir-butir air mengalir dan membasahi pipi Gadi. Lamunan demi lamunan ia lalui dengan tangisan, mengingatkan kasih sayang seorang Ibu yang menuntunnya menjadi seorang sarjana seperti sekarang, tetapi bukan tangisan yang dibutuhkan oleh seorang Ibunya melainkan doa dari seorang anak saleh yang dapat menuntunnya untuk menempuh jalan terindah yaitu di surga.
Hampir tidak mungkin Gadi hanya seorang anak dari kalangan berekonomi rendah bisa menjadi Sarjana Hukum apa lagi Ibunya hanya seorang buruh cuci yang gajinya hampir tidak mencukupi kehidupannya. Itu semua berkat doa seorang Ibu untuk anaknya, selain itu juga karena kegigihan dan usaha yang di lakukan oleh Gadi. Karena rasa sayang begitu besar yang dimiliki oleh Gandi maka apa yang selama ini dia lakukan hanya semata-mata untuk membahagiakan Ibunya.
Gadi sangat bersyukur memiliki Ibu berhati baja, berjiwa mulia. Mengajarkannya banyak hal untuk kekuatan hidupnya demi meraih masa depan. Suka duka itu semua bagian dari hidup. Kekuatan Ibunya menghadapi hidup atas nama cinta untuk anaknya. Sang anginpun hanya datang untuk menghembusnya, diapun pergi setelah sang daun harus gugur ke bumi rapuh terinjak.
Dia tidak lagi iri kepada teman-temannya yang memiliki keluarga sempurna, punya orang tua kandung yang lengkap dan hidup serba kecukupan. Ternyata, memiliki keluarga lengkap tidak menjamin mereka bisa berhasil hidupnya.
Banyak contoh di sekelilingnya, teman-teman sekolahnya yang naik turun mobil pribadi saat sekolah, ternyata tidak mendapat cukup kasih sayang orang tuanya yang jelas-jelas lengkap dan senantiasa bisa bersama mereka setiap saat. Banyak kebahagiaan semu teman-temannya yang tidak tau apa arti kasih Ibu.
Sejak duduk di pendidikan Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah, Gadi selalu menjadai sisiwa terbaik di sekolahnya di bandingkan dengan temen-temannya. Berkali-kali ia selalu mendapat sanjungan dari guru-guru di sekolah maupun dari teman-temannya. Tidak sedikit pula beasiswa yang di dapatkannya, dengan adanya beasiswa inilah ia dapat melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi selain itu juga dapat mengurangi beban hidup Ibunya yang tidak lagi memikirkan beban biaya.
Sejak duduk di bangku kuliah, dia tidak lagi tinggal bersama Ibunya melainkan ia ikut tinggal dengan temannya di kos dekat kampusnya. Mengingat jarak dari rumah menuju kampus lumayan jauh. Semenjak ia menjadi mahasiswa di kampusnya ia jarang lagi pulang karena banyak tugas yang harus cepat di selesaikan. Di kampus Gadi selalu ikut menjadi aktifis muda di kampusnya.
Siang itu, Ibu Gadi sangat merindukan anaknya yang telah menjadi seorang yang mendiri. Pada sore harinya, sang Ibu mendatangi kos tanpa sepengetahuan Gadi. Tempat kos yang cukup sederhana namun nyaman untuk di tinggali. Tak lupa ia menitipkan beberapa bingkisan makanan kesukaan Gadi dan alat solat berupa sarung dan peci, selain itu ia juga menyelipkan Al-Qur’an kecil agar mengingatkannya untuk tetap ingat dan beribadah kepada Allah SWT. Saat teman kos Gadi keluar dari kamar, sang Ibu menitipkan beberapa bingkisan itu melalui teman yang di lihat umurnya tidak jauh dari Gadi.
            “Assalamualaikum...”
            “Waalaikumsalam...”
            “Maaf nak, bisa tolong titipkan ini untuk Gadi?”
            “Oh bisa bu, kalo boleh tau Ibu ini siapa yah?”
            “Ibu hanya orang yang dititipkan ini untuk Gadi”

Ibunya terpaksa berbohong, ia tidak ingin melihat orang lain melihatnya sebagai Ibu Gadi. Gadi adalah aktifis muda yang berbakat memiliki segudang prestasi yang ia pikir tidak pantas memiliki seorang Ibu yang hanya hidup sebagai seorang buruh cuci yang berpenghasilan tidak menentu.
Tanpa berpikir panjang dan tanpa melihat bagaimana perkembangan anaknya, sang Ibu bergegas pergi meninggalkan kos itu, dan di dalam hatinya walaupun ia tidak dapat bertemu dengan anaknya saat itu, sang Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anaknya.
Sore itu awan mulai gelap menyelimuti bumi, suara gemuruh petir mulai terdengar di sana sini. Satu demi satu, dikit demi sedikit awan mulai mengeluarkan butiran air hasil proses kondensasi di awan. Dengan terburu-buru sang Ibu memantapkan langkahnya untuk bergegas pulang, dari belakang terdengar suara yang memanggil dirinya tetapi dia tidak mempedulikannya.
            “Buuuuu, Ibuuuuuu ..........”
Saat suara itu semakin dekat, dan tiba-tiba memegang erat dan mencium tangan kanan sang Ibu, ternyata itu adalah Gadi.
            “Ibu kenapa gak ingin ketemu Gadi, tadi Gadi ada di dalam”
Dengan menatap dengan senyuman sang ibu membelai anaknya yang terlihat semakin besar dan dewasa.
            “Ibu tidak ingin teman-temanmu melihat aku ini Ibumu nak”
            “Kenapa Ibu berfikir seperti itu? Gadi tidak pernah malu memiliki Ibu seorang buru cuci, bagi Gadi Ibu adalah orang yang paling Gadi hormati”
            “Ibu berpesan kepada mu, jangan pernah tinggalkan ibadah kepada Gusti Allah, sesuai dengan nama mu Gadi yang artinya Allah adalah penuntunku”
            “Iya, Gadi janji Bu..”
Gadi tak menyangka begitu besar cinta Ibunya kepada dirinya. Air mata pun mengalir bersama dengan air-air hujan yang membasahi pipinya saat itu.
ððððð
Hari ini hari yang paling membahagiakan bagi Gadi dan teman-temannya karena hari ini adalah hari dimana ia akan diwisuda. Dengan Indeks Prestasi mencapai diatas 3,2 maka ia semakin yakin dengan ini Gadi akan membahagiakan Ibunya.
Awalnya ia ingin menuju kampus bersama Ibunya, karena sang Ibu tidak datang juga maka Gadi datang ke acara wisuda hanya dengan teman satu kosnya.
Setelah acara wisuda selesai ia langsung bergegas menuju rumah yang sangat sederhana, tempat dimana Gadi pelepas masa-masa kecilnya dan merasakan indahnya kasih sayang sorang Ibu. Saat ia memasuki ruangan sempit, terdengar suara lirih, lalu Gadi mendekat dan sang Ibu  berbisik.
            “Hari ini kamu wisuda, anakku telah jadi sarjana, doa ibumu terkabul nak maturnuwun Gusti..., Allahu Akbar..., Lailahaillah Muhammadarasulullah...
            “Ibuuuuuuu, Innalillahi wainnalillahi roji’un

Sakit yang menahun tak pernah dirasakannya, dia terus berjuang demi masa depan anaknya. Kini sakit itu telah hilang bersama raga, dan telah meninggalkan beberapa kisah mengenai nilai hidup dan perjuangan kepada anaknya. Tanpa rasa mengeluh ia lakukan hanyalah untuk anaknya dan juga dia tidak pernah meratapi kemiskinan yang dialaminya. Kemiskinan bukan untuk diratapi tetapi untuk di hadapi.
Ibu tidak pernah menangis di depan kita, kalau pun ingin menangis dia selalu menahan air matanya di depan kita, dia selalu menguatkan kita dengan kata-kata indah, tidak ada seorang Ibu yang tidak sayang kepada anaknya, baginya anak adalah buah cintanya kepada Allah SWT yang harus ia jaga dan lindungi di mana pun dan kapan pun. Dalam hidupnya semua yang ia lakukan hanyalah untuk membahagiakan anaknya.
Seorang Ibu tidak mengharapkan imbalan apa pun dari apa yang di berikannya selama ini, tugasnya di dunia ini hanyalah memberi memberi dan memberi. Dari rahimnya lah ia melahirkan sosok-sosok manusia yang hebat. Baginya anak adalah segalanya, anak adalah separuh hidupnya, di saat sosoknya telah tiada doanya yang selalu terlantun untuk anak-anaknya.
Tiadanya dirimu menjadi semangat untuk ku untuk menjadi lebih baik, cinta dan kasih sayang mu akan selalu menuntun hidup ku, selamat jalan Ibu, Kaulah malaikat kecil ku. Terima kasih ibu, doa ku kan menuntunmu di surga.



DIBALIK AWAN

Di balik awan
Ku menunggu itu datang.
Ku tatap langit berharap itu terjadi.
Berharap dan terus berharap
Mimpi kecil yang masih berada di balik awan.
Agar awan itu pindah dan mimpiku bisa jadi kenyataan

Terlalu konyol ku katakan tetapi itulah kenyataanya. Ku bernama Nur Faida, bisa di panggil faida. Aku ingin sekali mimpi kecilku itu terwujud sebari ku menunggu sejak kecil sampai kelas 3 SMP sekarang. Entah kenapa, aku ingin sekali itu terwujud dan sekarang mimpi kecilku itu menjadi kenyataan.

Hari jumat sepulang sekolah, ku pandang langit yang bersahabat denganku. Ku berlari secepat mungkin karena ku tak mau temanku ninda memelukku dan aku tak mau menjadi kue bercampur kopi. Begitulah masa remaja menurutku, setiap ada teman kita yang ulang tahun pasti ujung – ujungnya orang yang berulang tahun itu akan ditaburi maupun di lempari dengan terigu , air dan telur maka menjadilah kue dan di berikan juga kopi.Ku beruntung sekali, aku tidak terkena semua itu dan kami sekelas perempuan semuanya pergi kerumah ninda.


Saat ku lihat Ninda , ada rasa iri diriku. Sejak kecil ulang tahunku tidak pernah dirayakan oleh teman – temanku semua, ku memang pernah dirayakan ulang tahunku tapi aku hanya 1 kali itupun ku sama keluarga ajah. Ku ingin sekali ulang tahunku dirayakan oleh teman – teman semua, aku selalu menunggu sampai sekarang ini. Ku fahami itu bahwa tanggal lahirku 3 Agustus 1998 jadi ulang tahunku sulit untuk dirayakan karena pada bulan kelahiranku itu adalah bulan ramadhan tetapi ku ingin sekali itu di rayakan walau ditunda waktunya.

Dirumah Ninda, kami semua menunggu 2 teman kami yang akan membawa kue ulang tahun untuk Ninda. Banyak hal yang temanku lakukan semuanya saat menunggu 2 teman kami dan juga ninda yang sedang mandi ini. Ada yang saling berbincang - bincang , main – main bersama dan perbaiki kudung.

Tak lama kemudian, Atul dan Dilah datang membawakan kue ulang tahun berbentuk segi empat untuk Ninda . Teman – temanku pun menancapkan lilin. Betapa senangnya Ninda pastinya akan hal ini.
“Happy birthday Ninda!”sorak semua temanku saat Ninda turun dari tangganya.
Nindapun gabung pada kita semua dan kami semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan Nindapun meniup lilinnya lalu memotong kue ulang tahun yang di beli dari kumpulan uang semua teman di kelas kemudian kamipun semunya memakan kue ulang tahun itu yang ternyata masih ada sisa sepotong kue Ulang tahun Ninda yang kira – kira besarnya 40 derajat.

Tak ku sangka Wawa,Inna dan Icha seseorang yang sudah ku anggap sahabat itu menancapkan lilin lebih dari 8 dengan api yang sudah berada di pucuknya dan menghampiriku.
“faida! Selamat ulang tahun yah. Kan Ulang Tahunmu belum dirayakan waktu itu”kata Wawa yang berada di depanku dengan membawa kue Ulang tahun.

Mereka menyanyikan Lagu Selamat Ulang tahun dan akupun meniupnya. Ya Allah, aku sangat gembira sekali sekaligus terharu. Aku ingin sekali menangis karena saking senangnya tapi ku tahan mataku agar tidak menangis. setelah itu iseng – isengnya wawa mencolek kue itu dan memberikan mukaku bedak kue.Astaga, reflex saja aku membalasnya dan juga Inna melakukan hal seperti itu. Akan hal itu, kudungku jadi kotor dan mereka berdua juga

Alhamdulillah, akhirnya mimpi kecilku sudah terwujud dan selang beberapa hari setelah itu mereka berdua memberikanku kado ulang tahun untukku sebuah pulpen berwarna hijau. Aku sangat senang karena sekiang lama ku menunggu akhirnya terwujud juga. Terimah kasih ya Allah engkau sudah mewujudkan mimpi kecilku itu. Mimpi yang dulunya berada di balik awan sekarang sudah menjadi kenyataan. Itulah mimpi kecilku, ingin dirayakan ulang tahunku dan di beri kado




Sebuah Harapan

Barangkali pagi adalah waktu yang akan selalu disesali oleh pak Dirman. Betapa tidak, kehadiran matahari yang menyilaukan mata lewat jendela sempit di kamarnya itu kemudian memaksanya terbangun dari mimpi-mimpi malam untuk menyaksikan kenyataan yang tak pernah dia harapkan sebelumnya. Lagi-lagi tubuh ringkih yang hampir separuh abad tuanya itu harus mempersiapkan segalanya dengan segera. Disulutnya kompor minyak yang sudah penuh karat untuk menanak nasi. Lalu Pak Dirman bergegas menimba air untuk mandi. Begitulah, kemudian anak semata wayangnya yang baru duduk di bangku SD kelas tiga itu dimandikan, meski sudah besar. Setelah beres, baru Pak Dirman sarapan pagi bersama istrinya sekaligus mendulang Dodi anak semata wayangnya.

Pak Dirman yang sudah sedemikian tua mengayuh becak yang mungkin sama-sama tuanya menuju pasar, tempat yang katanya penuh rejeki itu. Tak jarang Pak Dirman lupa mandi pagi dengan alasan tak ingin kehabisan rejeki, maklum harus berebut dengan belasan tukang becak yang memiliki tujuan sama mengais rejeki. Itu pun masih harus bersaing dengan angkot-angkot berbau amis di sekitar pasar.

“Pak Dirman…” sapa seorang wanita paruh baya dengan sedikit berteriak. Pak Dirman mencoba mencari sumber suara yang cukup membuatnya terkaget saat matahari semakin menampakkan warna silaunya.
“Eh, Mak Ijum” Pak Dirman tersenyum senang. Hatinya teramat bersyukur karena wanita yang biasa menaiki becaknya itu belum pulang dari pasar. Seperti biasa, dua buah keranjang yang dibawanya selalu penuh dengan sayur mayur dan lauk pauk. Maklum punya warteg.
“Berarti aku tepat waktu” pikirnya. Segera becak tua itu diturunkan supaya memudahkan penumpang saat menaikinya. Buru-buru Mak Ijum mengulurkan tangannya tanda menolak tawaran Pak Dirman. Sontak Pak Dirman terkejut, dahinya yang keriput mengernyit hingga semakin menampakkan lipatan-lipatannya.
“Kenapa, Mak?” suara Pak Dirman hampir tidak kedengaran, saking lirihnya.
“Saya mau naik angkot sajalah, Pak” Mak Ijum nyengir. Tangannya melambai ke arah angkot bobrok yang tak jauh di hadapannya. Segera Mak Ijum menaiki angkot dengan tergesa. Dunia terasa gelap dalam pandangan Pak Dirman. Harapannya musnah. Mak Ijum sudah tidak membutuhkannya lagi, padahal selama ini dialah satu-satunya penumpang setia yang mampu memberikannya sesuap nasi sekadar untuk sarapan sekeluarga, meski hanya berlauk garam. Sial, angkot itu merebut kehidupannya.

Pak Dirman menelan air liurnya yang kering. Disekanya butir-butir keringat yang mengalir deras di lehernya. Kecewa berat, namun tak bisa apa-apa. Pikirannya pun melayang kemana-mana. Pertama, keluarga. Istri yang telah dinikahinya lima belas tahun lalu itu kini tak bisa melayaninya lagi. Ia lumpuh karena stroke. Dulu Minah, istrinya itu bisa membantu penghasilan suaminya dengan berjualan sayur segar mengelilingi komplek perumahan. Lumayan, setidaknya bisa untuk makan dengan tempe goreng atau ikan asin kadang-kadang. Tapi sekarang, bisa makan dengan garam pun Pak Dirman merasa sangat bersyukur. Lebih bersyukur lagi karena Dodi masih bisa sekolah, ada bantuan dari pihak sekolah katanya. Dengan demikian, urusan sekolah tidak jadi masalah lagi baginya. Pak Dirman hanya berharap keluarga yang dicintainya baik-baik saja.
“Jangan Kau coba kami dengan cobaan yang lebih berat, Tuhan” gumam Pak Dirman dalam doa-doanya yang panjang, penuh uaraian air mata, luka dan lara.
“Orang miskin sudah tidak berhak sakit, Tuhan. Negara ini kejam” adunya lagi.

Pak Dirman terus memikirkan keadaan keluarganya. Kini bayangan rumah kecil sederhana yang dibeli dengan uang hasil menjual tanah di desa nampak jelas dalam benaknya. Rumah itu sudah reot, perlu sekali dibenahi. Tapi, bagaimana mungkin memikirkan rumah ya kalau mau makan saja masih sebegitu susah? Pak Dirman menyeka keringatnya sekali lagi. Muka tuanya kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya.

Dipandanginya pasar yang mulai sepi. Hari semakin siang, terik terasa membakar kulit hitam Pak Dirman. Ternyata memang tak ada penumpang, kecuali satu. Seorang nenek tua yang nampak kesusahan membawa barang dagangannya. Nenek tua itu seperti kebingungan, sementara tak ada orang membantunya pulang. Hati kecil Pak Dirman tergugah untuk membantunya.

“Tak apalah jika belum dapat rejeki” bisik hati kecil Pak Dirman, bijak. Becak tuanya ia dorong perlahan mendekati nenek tua yang tengah duduk sambil memandangi jalan.
“Becak Uwa” tawar Pak Dirman tersenyum. Senyum yang ia paksa meski dalam hatinya menangis menjeritkan luka-luka yang menganga. Nenek itu hanya memandanginya lekat-lekat.
“Sampean mau nyulik saya yang sudah tua? Beraninya ya. Belum tau kalau suami saya mantan preman pasar!” nenek tua itu membentak. Suaranya terdengar parau. Gigi-giginya sudah banyak yang tanggal. Segera Pak Dirman beristighfar. Tak disangkanya niat tulus dari lubuk hatinya yang terdalam kemudian tak dimengerti oleh orang lain, malah disangkanya ia akan berbuat aniaya terhadap nenek tua itu.
“Saya ingin bantu nenek” Pak Dirman berusaha sabar, meski setengah terkejut.
“Alah, saya sudah nggak percaya lagi sama orang lain. Semuanya Munafik! Kau tahu, kota ini penuh kemunafikan.” tandas sang nenek berapi-api. Raut wajahnya menampakkan kemarahan yang sangat.
“Sudah berkali-kali aku ditipu. Biar tua-tua begini aku punya harga diri.” tambah nenek tua yang seolah kesetanan itu.
“Eh Pak, pergi saja kau cari mangsa yang lain”
Pak Dirman hanya termangu. Kata-kata yang terlontar dari mulut nenek tua itu serasa masuk menghujam jantungnya. Terbayang, istrinya terbaring lemah di rumah. Di sebuah dipan reot dekat jendela sempit yang ada di bagian samping rumah. Hidup sudah tak ada artinya lagi mungkin. Setiap hari hanya memandang keluar, mengamati hiruk pikuk kota. Melihat wanita-wanita seusianya asik bercengkerama di teras-teras rumah sambil sesekali tertawa. Melihat matahri menyapa seolah memberi semangat untuk bangkit, daripada terus-terusan tidur semakin menambah penyakit. Tapi mau bagaimana jika semua seolah mustahil untuk dilakukan? Minah hanya menangis bahkan nyaris tak bisa tersenyum ketika suaminya, Pak Dirman yang begitu sabarnya mencoba menghibur ia dengan sisa-sisa kantuk dan lelah sehabis pulang bekerja. Ia tak mampu lagi mengucapkan sepatah kata pun. Stroke, stroke. Andai saja ia dapat berunjuk rasa kepada tuhan. Sayang, tak semua orang akan setuju dengan idenya. Di mana sih tuhan yang katanya bijak itu? Mana tuhan yang kata para pembesar agama itu Maha Pengasih, Maha Pemberi, Maha Pengabul atas doa hambaNya yang meminta? Pertanyaan-pertanyaan itu semakin menyesakkan rongga dadanya. Doa-doa yang teruntai panjang dari hati kecil Minah dan mungkin tak cukup jika dicatat dalam beribu-ribu lembar kertas dan buku seolah kabur tersapu angin sepi. Not responding. Once again, where’s the God? (sekalian wae dicampur bhs arabe mb) he

Pak Dirman baru ingat, istrinya pandai merajut. Mengapa tak ia belikan saja jarum dan benang. Dulu waktu masih di desa, Minah pernah belajar pada emaknya. Pak dirman merogoh saku celana kolornya, namun kosong. Lehernya serasa tercekik oleh tangan-tangan berkuku panjang.
“Eh, kenapa Kowe masih di sini?” tiba-tiba suara parau itu kembali mengejutkan Pak Dirman. Rupanya ia telah terdiam begitu lama di hadapan nenek tua yang tadinya ingin ia bantu itu.
‘Iii…ia Uwa” Pak Dirman akhirnya pergi sambil menggenjot pedal becaknya. Batinnya bergejolak. “Negeri macam apa ini?”
Pertanyaan-pertanyaan yang hampir sama dengan pertanyaan istrinya tiba-tiba muncul memenuhi ruang kepala. Di manakah Tuhan ketika hambaNya kesusahan? Makan susah, Minum susah, tersenyum dan tertawa pun lebih susah. Yaa, sedikit membenarkan lagu yang pernah didendangkan Sherina, beberapa tahun yang lalu saat ia masih menikmati pekerjaannya sebagai tukang becak, namun sedikit berpenghasilan. Barangkali bisa untuk membeli tempe goreng di warung Mak Ijum, sambil menonton tivi 14 inchi.

Pak Dirman mengontel pedalnya dengan lebih cepat, berharap ada peluang mendapatkan rejeki hari ini. Anak istri di rumah tentu belum makan siang. Seperti dirinya yang tengah mendengarkan cacing-cacing di perutnya berteriak minta makan. Perih memang.

Otak di kepalanya ia paksa berpikir dan terus berpikir. Kini pikirannya tiba pada masalah janji. Oh, janji mana memang? Pak Dirman ingat betul, beberapa tahun lalu ketika istrinya masih sehat, ada calon bupati yang mampir ke tempatnya. Katanya mau melihat-lihat rumah di komplek tempat tinggalnya itu, lalu menyeleksi rumah-rumah terpilih untuk diberi bantuan material. Tentu jika calon bupati itu nantinya menang dalam pemilihan. Rupanya Pak Dirman termasuk satu dari sekian warga yang terpilih. Ia akan diberi bantuan, dengan cara memilih calon bupati tersebut. Ya begitulah kiranya akal-akalan dari orang yang gila akan jabatan. Gila memang, karena segala cara akan dilakukan. Tapi untuk orang-orang seperti Pak Dirman tentu saja hal yang seperti itu tak perlu dipermasalahkan. Ia bahkan manut saja, yang penting nyoblos nomor yang dimaksud saat pemilihan.

Kini Pak Dirman baru sadar, bahkan di akhir masa jabatan calon bupati yang ternyata licik itu, rumah reotnya belum sekalipun tersentuh oleh bantuan material seperti yang dijanjikan. Mendatangi kompleknya saja tidak pernah. Ah, busuk memang. Mau protes? Ah, ribet. Harus menghadapi orang-orang berbaju rapih di kabupaten. Sementara, orang yang datang sama sekali tidak wangi. Bagaimana jika nanti mereka menutup mata? Kalau menutup hidung, ia kira wajar-wajar saja.
Keringat di leher Pak Dirman mengalir semakin deras. Namun Pak Dirman tak mau mempedulikannya lagi. Biarlah keringat itu menjadi saksi akan perjuangannya.

Pak Dirman mengayuh kembali becaknya menuju pasar. Hidup baginya tak boleh putus asa. Ia tak boleh mempertanyakan keberadaan Tuhan. Yang jelas, Tuhan akan selalu ada dalam hatinya. Jika saja ia mendekati Tuhan sejengkal, Tuhan akan mendekatinya sehasta. Jika ia mendekati Tuhan sehasta, Tuhan akan mendekatinya sedepa. Jika ia mendekati Tuhan dengan berjalan, Tuhan akan mendekatinya dengan berlari. Ia ingat betul petuah Haji Somad yang kemarin menaiki becaknya saat ia hampir putus asa. Saat ia ingin menceburkan dirinya dalam sungai di tengah kota. Karena tiba-tiba saja sosok Haji Somad muncul secara tiba-tiba dan menggenggam tangannya. Lalu Haji Somad menaiki becak dan memberikan sejumlah uang yang membuatnya kaget. Barangkali Uang Kaget memang, seperti program televisi yang pernah ia lihat di tivi 14 inchi milik Mak Ijum dulu, sambil menikmati tempe goreng dan teh tubruk yang hangat.

Uang kaget itu membuat istrinya kaget, hingga saat ini Minah mulai menikmati hidupnya dengan penuh senyuman. Mungkin kedua kakinya tak dapat digerakkan, tapi mulutnya kini dapat melafalkan huruf-huruf dalam deretan abjad dengan lancar dan mampu membentuk kata kemudian menjadi kalimat. Ia menjadi Minah yang bisa mendendangkan shalawat ketika Dodi tertidur dalam pangkuannya. Ia dapat merajut pernak-pernik yang hasilnya cukup untuk memoles wajahnya dengan bedak, supaya terlihat agak cantik. Stroke yang semakin mengurangi usianya itu ternyata sedikit memudarkan kecantikam Minah. Kalau dibilang mukjizat mungkin terlalu berlebihan karena Pak Dirman sekeluarga bukanlah nabi atau calon nabi. Ulama pun bukan, tapi mereka yakin akan kasih sayang Tuhan. Alloh telah memberikannya kemudahan. Pak Dirman sekeluarga sadar, telah lama mereka meninggalkan shalat. Mereka hanya berdoa dan terus berdoa menanti keajaiban tiba. Namun ternyata semua itu salah.

“Maafkan Kami, Tuhan” Pak Dirman meneteskan air mata.
Kini Pak dirman telah kembali siap untuk bersaing dengan angkot-angkot bobrok yang berbau amis di sekitar pasar. Tak apalah ia kehilangan mak Ijum dari daftar penumpangnya. Bukan berarti itu kiamat kan?
Tukang becak nampak semakin sepi dari pasaran. Banyak yang tidak betah karena sepi akan penumpang. Tapi justru itu kesempatan bagi Pak Dirman, karena kini nenek-nenek tua pun lebih suka memilih becak Pak Dirman. Kok bisa? Ya bisa.
Oh iya,
Kalau saja, beberapa waktu lalu ia tak membawa wanita malang yang ternyata istri Haji Somad itu ke rumah sakit saat kecelakaan. Mungkin bukan uang kaget yang ia dapatkan. Untung saja Haji Somad segera datang saat ia berniat mengakhiri hidupnya. “Alhamdulillah”


Ratusan orang nampak berunjuk rasa di depan kantor kabupaten. Ramai.
“Turunkan Joko! Turunkan Joko!”
“Pelaku Korupsi harus mati!”
“Turun! Turun! Turun!”
Jalur utama jalan diblockade oleh massa yang mengamuk karena marah.
Pak Dirman mengelus dada. “Astaghfirullah” bisiknya dalam hati.
Bupati yang dulu dipilihnya itu ternyata korupsi